Pakar: Konser Sold Out Bukan Berarti Ekonomi Baik-Baik Saja

TopCareer.id – Tiket konser yang sold out meski dijual dengan harga fantastis, bukan menjadi penanda daya beli masyarakat Indonesia tinggi dan perekonomian nasional baik-baik saja.
Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (Unair), Gancar Candra Premananto mengatakan, tren sold out tiket konser bukan semata soal tingkat kesejahteraan ekonomi.
“Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan berbagai hal agar bisa membeli tiket,” kata Gancar, mengutip laman resmi Unair, Rabu (30/9/2026).
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair ini pun mencontohkan, berbagai cara yang mungkin dilakukan termasuk berhemat hingga menggunakan pinjaman online (pinjol).
“Bagi mereka, pertunjukkan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri (self-reward),” kata Gancar.
Baca Juga: Mengapa Gen Z Makin Rajin Datang ke Konser?
Menurutnya, pernyataan di media sosial yang menganggap ekonomi Indonesia baik-baik saja hanya karena tiket konser habis terjual adalah sebuah ilusi.
Gancar menyebut, konsumsi tiket hiburan mahal dikategorikan sebagai pemenuhan kebutuhan tersier. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan ini merupakan bentuk konsumsi short-term orientation (orientasi jangka pendek).
“Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek,” kata Gancar.
Sementara, dari sudut pandang indikator makroekonomi seperti inflasi dan tingkat pengangguran, fenomena tiket konser mahal ini tidak serta-merta merefleksikan kondisi ekonomi nasional yang sesungguhnya.
Gancar menjelaskan, jumlah pembeli tiket konser sebenarnya hanya merepresentasikan porsi kecil dari total populasi (bubble effect).
Segmentasi pembeli tiket konser ini berdasarkan pada loyalitas konsumen yang sangat fanatik (hardcore loyalist). Kondisi tersebut tidak bisa terukur dari konsumsi kebutuhan tersier yang sifatnya tidak rutin.
Baca Juga: Kanye West alias Ye Bakal Gelar Konser di Jakarta, Cek Harga Tiketnya
Gancar mencontohkan, stadion besar seperti GBK atau JIS berkapasitas 70 sampai 80 ribu penonton. Angka ini tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa.
“Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia,” katanya.
Untuk itu, Gancar mengimbau masyarakat untuk tetap bijak dalam mengelola keuangan pribadi, di tengah tren hiburan berbiaya tinggi.
Ia mengakui, short-term orientation memang punya sisi positif seperti  meningkatkan destination awareness dan ekonomi daerah secara sporadis. Namun, perhatian terhadap manfaat jangka panjang tidak boleh diabaikan.
“Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat,” kata Gancar.



